Cerita Para Pejuang di Museum PETA Bogor
oleh: Adinda Nurul Yasmin (1)
Museum Pembela Tanah Air (Museum
PETA) merupakan museum yang didirikan untuk memberikan penghargaan kepada
mantan tentara PETA atas kontribusinya dalam pendirian bangsa dan negara. Selain
itu, museum yang terletak di Bogor ini juga didirikan untuk memberi gambaran
perjuangan kemerdekaan Indonesia dan persiapan dalam mengisi kemerdekaan.
Pembela Tanah Air atau dalam bahasa
Jepang Kyodo Bo-ei Giyugun adalah kesatuan militer yang dibentuk Jepang di
Indonesia dalam masa pendudukan Jepang yang terdiri dari penduduk pribumi.
Tentara Pembela Tanah Air dibentuk pada tanggal 3 Oktober 1943 berdasarkan
maklumat Osamu Seirei No. 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara Ke-16, Letnan
Jendral Kumakichi Harada sebagai Tentara Sukarela. Pelatihan pasukan Peta
dipusatkan di kompleks militer Bogor yang diberi nama Jawa Bo-ei Giyûgun Kanbu
Resentai.
Tentara PETA telah berperan besar
dalam Perang Kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh nasional yang dulunya
tergabung dalam PETA antara lain mantan presiden Soeharto dan Jendral Besar
Soedirman. Veteran-veteran tentara PETA telah menentukan perkembangan dan
evolusi militer Indonesia, antara lain setelah menjadi bagian penting dari
pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara
Keselamatan Rakyat, Tentara Republik Indonesia (TRI) hingga akhirnya TNI.
Karena hal ini, PETA banyak dianggap sebagai salah satu cikal bakal dari
Tentara Nasional Indonesia.
Tentara PETA merupakan tentara
kebangsaan. Tentara PETA ini memang disiapkan oleh para pemimpin-pemimpin
Kebangsaan Tanah Air yang untuk selanjutkan dijadikan tentara kebangsaan Negara
Indonesia dan di kota Bogor inilah untuk pertama kalinya diselenggarakan
pembentukan taruna-taruna. Adanya pembentukan taruna ini kemudian melahirkan
perwira-perwira Tentara Sukarela Pembela Tanah Air yaitu Tentara Kebangsaan
Indonesia. Disinilah para perwira Tentara Sukarela Pembela Tanah Air dibangkitkan
jiwa keprajuritan kebangsaan Indonesia yang untuk kemudian hari dapat berperan
di dalam gerakan persiapan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Pembentukan PETA dianggap berawal
dari surat Raden Gatot Mangkoepradja kepada Gunseikan (kepala pemerintahan
militer Jepang) pada bulan September 1943 yang antara lain berisi permohonan
agar bangsa Indonesia diperkenankan membantu pemerintahan Jepang di medan
perang. Pada pembentukannya, banyak anggota Seinen Dojo (Barisan Pemuda) yang
kemudian menjadi anggota senior dalam barisan PETA. Ada pendapat bahwa hal ini
merupakan strategi Jepang untuk membangkitkan semangat patriotisme dengan
memberi kesan bahwa usul pembentukan PETA berasal dari kalangan pemimpin
Indonesia sendiri. Pendapat ini ada benarnya, karena, sebagaimana berita yang
dimuat pada koran "Asia Raya" pada tanggal 13 September 1943, yakni
adanya usulan sepuluh ulama: K.H. Mas Mansyur, KH. Adnan, Dr. Abdul Karim
Amrullah (HAMKA), Guru H. Mansur, Guru H. Cholid. K.H. Abdul Madjid, Guru H.
Jacob, K.H. Djunaedi, U. Mochtar dan H. Mohammad Sadri, yang menuntut agar
segera dibentuk tentara sukarela bukan wajib militer yang akan mempertahankan
Pulau Jawa. Hal ini menunjukkan adanya peran golongan agama dalam rangka
pembentukan PETA. Tujuan pengusulan oleh golongan agama ini dianggap untuk
menanamkan paham kebangsaan dan cinta tanah air yang berdasarkan ajaran agama.
Hal ini kemudian juga diperlihatkan dalam panji atau bendera tentara PETA yang
berupa matahari terbit (lambang kekaisaran Jepang) dan lambang bulan sabit dan
bintang (simbol kepercayaan Islam).
Namun pada tanggal 14 Februari
1945, pasukan PETA di Blitar di bawah pimpinan Supriadi melakukan sebuah
pemberontakan. Pemberontakan ini berhasil dipadamkan dengan memanfaatkan
pasukan pribumi yang tak terlibat pemberontakan, baik dari satuan PETA sendiri
maupun Heiho. Supriadi, pimpinan pasukan pemberontak tersebut, menurut sejarah
Indonesia dinyatakan hilang dalam peristiwa ini. Akan tetapi, pimpinan lapangan
dari pemberontakan ini, yang selama ini dilupakan sejarah, Muradi, tetap
bersama dengan pasukannya hingga saat terakhir. Mereka semua pada akhirnya,
setelah disiksa selama penahanan oleh Kempeitai (PM), diadili dan dihukum mati
dengan hukuman penggal sesuai dengan hukum militer Tentara Kekaisaran Jepang di
Eevereld (sekarang pantai Ancol) pada tanggal 16 Mei 1945.
Pada tanggal 18 Agustus 1945,
sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, berdasarkan perjanjian
kapitulasi Jepang dengan blok Sekutu, Tentara Kekaisaran Jepang memerintahkan
para daidan batalion PETA untuk menyerah dan menyerahkan senjata mereka, dimana
sebagian besar dari mereka mematuhinya. Presiden Republik Indonesia yang baru
saja dilantik, Sukarno, mendukung pembubaran ini ketimbang mengubah PETA
menjadi tentara nasional, karena tuduhan blok Sekutu bahwa Indonesia yang baru
lahir adalah kolaborator Kekaisaran Jepang bila ia memperbolehkan milisi yang
diciptakan Jepang ini untuk dilanjutkan. Sehari kemudian, tanggal 19 Agustus
1945, panglima terakhir Tentara Ke-16 di Jawa, Letnan Jendral Nagano Yuichiro,
mengucapkan pidato perpisahan pada para anggota kesatuan PETA.
Tokoh Indonesia yang merupakan
lulusan PETA diantaranya adalah:
- - Jenderal Besar Sudirman (Panglima APRI)
- - Jenderal Besar Soeharto (Mantan Presiden RI ke-2)
- - Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani (Mantan Menteri/Panglima Angkatan Darat)
- - Soepriyadi (Mantan Menhankam Kabinaet I in absentia)
- - Jenderal TNI Basuki Rahmat (Mantan Mendagri)
- - Letnan Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo (Mantan Komandan Kopassus)
- - Jenderal TNI Umar Wirahadikusumah (Mantan Wapres RI)
- - Jenderal TNI Soemitro (Mantan Pangkopkamtib)
- - Jenderal TNI Poniman (Mantan Menhankam)
- - Letjend TNI Kemal Idris
- - Letjend TNI Supardjo Rustam
- - Letjend TNI GPH Djatikoesoemo
Sumbangsih dan peranan tentara PETA
dalam masa Perang Kemerdekaan Indonesia sangatlah besar. Demikian juga peranan
mantan Tentara PETA dalam kemerdekaan Indonesia. Untuk mengenang perjuangan
Tentara PETA, pada tanggal 18 Desember 1995 diresmikan monumen PETA yang
letaknya di Bogor, bekas markas besar PETA.
Gedung yang difungsikan sebagai
museum ini dibangun pada tahun 1745 oleh tentara KNIL dengan gaya bangunan
Eropa (Inggris). Pada tahun 1943 gedung tersebut digunakan sebagai pusat
pelatihan pasukan tanah air, walaupun masih di bawah kontrol Jepang). Pembangunan
Museum PETA dimulai pada tanggal 14 November 1993 dengan peletakan batu pertama
oleh Wakil Presiden RI yang juga merupakan sesepuh YAPETA yaitu Umar
Wirahadikusumah. Pembangunan tersebut memakan waktu kurang lebih 2 tahun dan
diresmikan oleh Presiden RI Soeharto pada tanggal 18 Desember 1995.
Koleksi yang ada di Museum tersebut
terdiri atas relief atau monumen yang menceritakan awal terbentuknya tentara
PETA dan terjadinya pertempuran tentara PETA melawan penjajah berupa patung,
perlengkapan perang, meriam dan senjata lainnya. Monumen yang ada di museum ini
berupa patung Soedirman dan Supriyadi. Selain itu, museum PETA memiliki 14
diorama yang menceritakan tentang peristiwa pembentukan tentara PETA dan
beberapa kontribusinya dalam proses pergerakan kebangsaan untuk mencapai
kemerdekaan.
- - Diorama 1: Kesepakatan tokoh-tokoh Indonesia mengupayakan berdirinya tentara PETA
- - Diorama 2: Kegiatan latihan di Pusat Pendidikan Perwira Pembela Tanah Air Bogor
- - Diorama 3: Pembentukan batalyon-batalyon PETA di daerah Jawa, Madura dan Bali
- - Diorama 4: Pemberontakan PETA di Blitar
- - Diorama 5: Tipu muslihat Katagiri Butaicho (Jepang) terhadap Syodancho Muradi
- - Diorama 6: Peristiwa 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok
- - Diorama 7: Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945
- - Diorama 8: Badan Keamanan Rakyat (BKR) cikal bakal TNI
- - Diorama 9: Peristiwa rapat raksasa 19 September 1945 di lapangan IKADA, Jakarta
- - Diorama 10: Peristiwa serbuan Osha Butai Kota Baru oleh Pasukan BKR Yogyakarta
- - Diorama 11: BKR Malang dalam pembentukan kekuatan bersenjata Indonesia
- - Diorama 12: Pemindahan markas angkatan darat Jepang di Jawa Timur ke tangan Indonesia
- - Diorama 13: Ambarawa dan lahirnya hari infantri TNI-AD (Angkatan Darat)
- - Diorama 14: Pemilihan panglima besar Tentara Keamanan Rakyat
Pertama kali memasuki museum ini, pengunjung akan disambut
dengan patung Jendral Sudirman di sisi kanan sedangkan pada sisi kiri akan
terlihat sebuah Tank. Patung tersebut diresmikan pada tanggal 9 Agustus 2010
dan bertepatan dengan diserahkannya Monumen dan Museum PETA oleh yayasan PETA
Bogor kepada pemerintah dan selanjutnya pengelolaan diserahkan kepada TNI
Angkatan Darat.
Di dalam museum, pengunjung akan disambut dengan relief yang
menggambarkan kegiatan dan tokoh-tokoh PETA. Relief tersebut berada di kanan
dan kiri lorong museum. Terdapat relief mantan PETA yaitu Supriadi, Soeharto,
Sudirman, dan para tokoh PETA lainnya. Selain memperlihatkan para tokoh,
relief-relief ini juga menyajikan gambaran perekrutan dan pendidikan tentara
PETA beserta tokoh Daidan (Batalion) PETA Blitar dan Magelang.
Kemudian, barulah kita temukan berbagai macam diorama
serta aneka ragam bentuk senjata yang pada masanya pernah digunakan oleh PETA
dalam berbagai pertempuran untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia tercinta
ini yang cukup membuat pengunjung seakan menyaksikan kejadian di masa lalu. Terdapat
pula patung Daidancho Soedirman, atau setara dengan Komandan Batliyon pada masa
itu. Monumen dan Museum PETA ini menjadi sebuah museum yang baik dan sangat
direkomendasikan untuk dikunjungi. Karena selain dapat menyaksikan
peristiwa-peristiwa yang sangat bersejarah,para pengunjung juga dapat
menjadikan pentingnya pendidikan kemiliteran dalam mendukung perjuangan politik
untuk menegakkan kemerdekaan Republik Indonesia.
Museum PETA ini berlokasi di Jl. Jendral Sudirman No 35
Bogor, Jawa Barat. Masih di dalam halaman kompleks Pusdikzi TNI Angkatan Darat
dan berjarak sekitar 500 meter dari Istana Bogor. Untuk harga tiket masuk tidak
dikenakan biaya apapun dengan jam operasional di buka mulai dari hari Senin-Jumat
pukul 08.00-14.30 WIB sedangkan untuk hari Sabtu, Minggu serta hari libur lainnya
lokasi ini tutup.

Comments
Post a Comment