MENGUNJUNGI MUSEUM JENDRAL BESAR DR. A.H. NASUTION

oleh: Audrey Rania Raviando XI IPS 1



Museum Abdul Haris Nasution atau tepatnya Museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution adalah salah satu museum pahlawan nasional yang terletak di jalan Teuku Umar No. 40, Jakarta Pusat, DKI Jaya, Indonesia. Museum ini terbuka untuk umum dari hari Selasa hingga hari Minggu, dari pukul 08:00 hingga pukul 14:00 WIB. Setiap hari Senin museum ini ditutup untuk umum.
Museum ini semula adalah kediaman pribadi dari Pak Nasution yang ditempati bersama dengan keluarganya sejak menjabat sebagai KSAD tahun 1949 hingga wafatnya pada tanggal 6 September 2000. Selanjutnya keluarga Nasution pindah rumah pada tanggal 29 Juli, 2008 sejak dimulainya renovasi rumah pribadi tersebut menjadi museum.
Di kediaman ini Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution telah menghasilkan banyak karya juang yang dipersembahkan bagi kemajuan bangsa dan negaranya.
Abdul Haris Nasution Lahir di Desa Hutapungkut, Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara pada 3 Desember 1918. Ia lahir dari keluarga batak muslim, Ia merupakan anak kedua dan anak laki-laki tertua di keluarganya. Ayah Nasution merupakan seorang pedagang dan juga anggota Sarekat Islam. Ayahnya yang sangat religius, menginginkan Nasution untuk belajar di sekolah agama namun sang ibu menginginkan agar dia sekolah kedokteran di Batavia. Setamat dari sekolah pada 1932, Ia mendapatkan beasiswa untuk belajar mengajar di Bukit Tinggi.
Pada tahun 1935, Nasution pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikannya dan Ia tinggal disana selama 3 tahun. Keinginannya untuk menjadi seorang guru lama kelamaan memudar saat ketertarikan dalam bidang politiknya tumbuh. Setelah lulus pada tahun 1937, Ia kembali ke Sumatera dan mengajar di Bengkulu. Setahun kemudian Ia pindah mengajar ke Tanjung Raja dekat Pelembang. Namun minatnya pada politik dan militer lebih besar.
Pada tahun 1940, Jerman Nazi menguasai Belanda dan pemerintah kolonial Belanda membentuk korps perwira cadangan yang menerima orang Indonesia. Kemudian Nasution bergabung dan dikirim ke Akademi Militer Bandung untuk pelatihan. Pada September 1940, Ia dipromosikan menjadi Kopral dan 3 bulan kemudian ia menjadi sersan. kemudian Ia menjadi seorang perwira di KNIL atau Koninklijk Nederlands-Indische Leger. Pada tahun 1942, Jepang menduduki Indonesia, lalu Nasution ditugaskan ke Surabaya untuk mempertahankan pelabuhan. Nasution kembali ke Bandung untuk bersembunyi karena takut ditangkap oleh Jepang. Tapi kemudian Ia membantu milisi Peta namun tidak benar-benar menjadi anggota.


Museum ini juga merupakan tempat terjadinya peristiwa mengerikan yang hampir merenggut nyawa Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution. Pasukan Tjakrabirawa G-30S/PKI berupaya menculik dan membunuh dia, namun hal ini gagal dilakukan. Dalam peristiwa tersebut, putri kedua dia, Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya, Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean gugur. Kejadian ini diceritakan dengan bentuk diorama atau patung-patung.
Pada pagi hari 1 Oktober 1965, pasukan yang menamai dirinya Gerakan 30 September mencoba untuk menculik 7 perwira Angkatan Darat yang anti komunis dan Nasution masuk dalam daftarnya. Pada pukul 04:00, pasukan yang dipimpin oleh Letnan latief untuk menangkap Nasution menuju rumah Nasution yang berada di jalan Teuku Umar no.40 dengan mengendarai empat truk dan dua mobil militer .
Penjaga rumah di pos jaga luar melihat kendaraan datang, namun setelah melihat yang datang adalah para tentara ia tidak curiga dan tidak menelepon atasannya yaitu Sersan Iskaq. Sersan Ishaq berada di ruang jaga di ruang depan bersama dengan 6 tentara dan beberapa di antaranya sedang tidur. Seorang penjaga sedang tidur di taman depan dan satu lagi sedang bertugas di bagian belakang rumah. Dalam sebuah pondok terpisah, dua ajudan Nasution sedang tidur yaitu seorang letnan muda bernama Pierre Tendean, dan ajun komisaris polisi Hamdan Mansjur.
Nasution dan istrinya terganggu oleh nyamuk dan terjaga. Nyonya Nasution yang mendengar pintu dibuka paksa ia bangun dari tempat tidur untuk memeriksa dan membuka pintu kamar tidur, ia melihat tentara Cakrabirawa dengan senjata siap menembak lalu ia berteriak pada suaminya. Nasution yang ingin melihatnya namun saat membuka pintutentara menembak ke arahnya. Sang istri menyuruh suaminya untuk keluar memalui pintu lain, Nasution berlari ke halaman rumah menuju dinding pemisah antara rumahnya dengan Kedutaan Besar Irak. Tentara menemukannya dan menembaknya namun meleset, lalu nia memanjat dinding dan Ia tidak dikejar.
Seluruh penghuni rumah termasuk ibu dan adik Nasution, Mardiah ketakutan, lalu ia berlari ke kamar Nasution dan membawa putri bungsu Nasution yaitu Irma yang baru berusia 5 tahun. Saat mencoba mencari tempat yang aman, seorang kopral penjaga istana melepaskan tembakan dan Irma tertembak dengan 3 peluru dipunggunggnya. Sementara putri Sulung Nasution, Hendrianti Saharah Lari bersama dengan pengasuhnya ke pondok ajudan dan bersembunyi di bawah tempat tidur.
Ajudan Nasution yaitu Tendean mengambil senjatanya dan lari dari rum,ah namun baru beberapa langkah ia tertangkap. Setelah menyuruh suaminya pergi, Ia masuk ke rumah dan membawa putrinya yang terluka. Saat menelpon dokter pasukan cakrabirawa memaksa Ia untuk memberi tahu dimana suaminya lalu ia menjawab bahwa suaminya berada di luar kota. Pasukan cakrabirawa kemudian pergi dari rumah Nasution dan membawa Tendena bersama mereka. Nyonya Nasution kemudian ke rumah sakit pusat angkatan darat membawa putrinya yang terluka.
Nasution yang bersembunyi hingga pukul 06:00, saat kembali ke rumahnya dalam keadaan patah pergelangan kaki. Nasution menguruh ajudannya untuk membawanya ke Departemen Pertahanan dan Keamanan. Pada tanggal 2 Oktober pukul 06:00, Gerakan 30 September berhasil dikalahkan.
Beberapa Minggu setelah G30S, Nasution berusaha melobi Soekarno agar menjadikan Soeharto sebagai Panglima Nagkatan Darat dan pada 14 Oktober 1965, Soeharto diangkat sebagai Panglima Angkatan Darat. Pada Februari 1966, Nasution tidak lagi menjabat Menteri Pertahanan dan Keamanan dalam perombakan kabinet dan juga posisi Kepala Staf ABRI dihapuskan. Harapan untuk melakukan sesuatu telah hilang, para perwira dan juga gerakan mahasiswa berada dibelakang Soeharto, walaupun begitu Ia tetap menjadi tokoh yang dihormati. Nasution di nominasikan untuk posisi ketua MPRS oleh semua fraksi di MRPS dan ia menjadi ketua MPRS.
Walaupun di bantu oleh Nasution, Soeharto menganggap Nasution sebagai saingan. Pada 1969, Nasution dilarang berbicara di Akademi Militer dan Seskoad dan pada 1971 Nasution diberhentikan dari dinas militer. Pada tahun 1972, posisi Ketua MPRS digantikan oleh Idham Chalid. Karena jatuh dari kekuasaan tersebut, Ia mendapat julukan Gelandangan Politik.

Ruangan pertama yang dikunjungi pertama kali oleh pengunjung adalah Ruang Tamu. Di ruangan inilah biasanya Jendral A.H. Nasution menerima tamu-tamunya. Di ruangan ini terdapat berbagai macam koleksi seperti meja dan kursi tamu, patung dada Jendral A.H. Nasution, beberapa foto kenangan dan berbagai macam koleksi cinderamata seperti miniatur meriam dan tank, beberapa plakat penghargaan dan gading gajah kenang-kenangan dari brigade Garuda III. Dari ruang tamu, ruangan berikutnya adalah Ruangan Kerja. D ruangan inilah tempat dimana Jendral A.H. Nasution menjalankan tugasnya sebagai Staff TNI Angkatan Darat. Di ruangan ini terdapat berbagai macam koleksi buku-buku milik Jendral A.H. Nasution, meja-kursi dan manekin bapak ketika bekerja, foto kenang-kenangan dan beberapa piagam penghargaan. Dari ruang kerja, ruangan berikutnya adalah Ruang Tamu VIP. Di ruangan inilah biasanya Jendral A.H. Nasution menerima beberapa tamu pentingnya. Sama seperti ruang tamu depan, di ruangan ini juga terdapat berbagai macam koleksi seperti beberapa meja dan kursi, benda kenang-kenangan dan koleksi foto. Sambil menuju ruangan berikutnya, pengunjung akan melihat beberapa patung Tjakrabirawa. Patung ini memperlihatkan diorama peristiwa pada saat terjadinya penculikan di malam 1 Oktober. Di sepanjang jalan juga terdapat berbagai macam foto-foto Jendral A.H. Nasution pada saat masih bertugas. Ruangan berikutnya adalah Ruang tidur. Di ruangan inilah terjadinya peristiwa tragis dimana Ade Irma Suryani Nasution putri dari Jendral A.H. Nasution tertembak oleh gerombolan penculik yang memaksa masuk ke kamar tidur jendral. Ini bisa dilihat dari adanya bekas lubang peluru yang terdapat di pintu masuk kamar dan meja kecil yang ada di dalam kamar. Adapun koleksi yang ada di ruangan ini seperti tempat tidur asli, foto-foto kenangan, lemari pakaian yang berisi pakaian Jendral A.H. Nasution, koleksi sepatu dan kursi-meja yang terdapat bekas peluru serta manekin Jendral A.H. Nasution yang menggambarkan beliau pada saat terjadinya peristiwa penculikan. Dari ruang berikutnya Ruang Gamad (Seragam Angkatan Darat). Sesuai dengan namanya, ruangan ini menyimpan berbagai macam koleksi seragam angkatan darat yang pernah digunakan oleh Jendral A.H. Nasution dan beberapa koleksi tongkat komando yang pernah beliau gunakan. Di ruangan ini juga terdapat manekin diorama pada saat Jendral A.H. Nasution melarikan diri dari para penculik dengan memanjat tembok rumah sambil melihat ke sang istri (Johanna Sunarti nasution) dan anaknya yang terkena tembak. Dari ruangan gamad, ruangan berikutnya adalah Ruang Senjata. Sesuai dengan namanya, ruangan ini menyimpan berbagai macam koleksi senjata mulai dari senjata tradisional kenang-kenangan dari berbagai daerah Indonesia, senjata api koleksi Jendral A.H. Nasution dan senjata yang digunakan oleh para penculik untuk menembak Ade Irma Suryani. Dari ruang senjata, ruangan berikutnya adalah Ruang Ade Irma. Sesuai dengan namanya ruangan ini berisi berbagai macam barang-barang yang dimiliki oleh Ade Irma Suryani. Selain barang-barang pribadi, di ruangan ini terdapat dipan & tongkat yang pernah digunakan untuk merawat Jendral A.H. Nasution, baju dan cruk yang digunakan Jendral A.H. Nasution untuk melepas jenazah Pahlawan Revolusi dan beberapa pakaian milik jendral A.H. Nasution dan juga Ade Irma Suryani. Di ruangan ini juga terdapat foto terakhir Ade Irma Suryani bersama dengan Piere Tendean. Dari ruangan ade irma, ruangan berikutnya adalah Ruang Makan. Di ruangan inilah ibu Nasution bertemu dengan para penculik sambil mengendong anaknya yang berlumuran darah akibat tertembak oleh gerombolan penculik. Ini bisa dilihat dari diorama manekin yang memperlihatkan sosok ibu nasution mengendong Ade Irma Suryani yang berlumuran darah sedang bertemu dengan para penculik yang menodongkan senjata ke arahnya sambil menanyakan keberadaan Jendral A.H. Nasution. Koleksi yang ada di ruangan ini diantaranya meja makan keluarga, beberapa koleksi plakat, koleksi cawan dan cangkir, koleksi piring makan, lukisan dan beberapa pernak-pernik lainnya. Dari ruang makan, ruangan berikutnya adalah Ruang Heraldika (Tanda Jasa dan Tanda Pangkat). Seusai dengan namanya ruangan ini berisi berbagai macam koleksi Tanda Jasa dan Tanda Pangkat yang pernah diterima oleh Jendral A.H. Nasution. Dari ruang heraldika, kita menuju halaman belakang rumah. Di halaman belakang rumah terdapat mobil dinas milik Jendral A.H. Nasution yang digunakan selama beliau menjabat. Diarah pintu keluar, pengunjung bisa melihat lukisan relief perjalanan hidup Jendral A.H. Nasution mulai dari kecil hingga beliau wafat. Dari halaman belakang, pengunjung bisa melihat sebuah rumah kecil yang ada di depan museum. Rumah ini dulunya merupakan rumah tempat tinggal dari para ajudan Jendral A.H. Nasution. Dirumah ini pula lah Kapten Piere Andreas Tendean ditangkap oleh gerombolan penculik yang mengira dirinya adalah Jendral A.H. Nasution. Sekarang rumah ini menjadi tempat diorama "Penculikan Piere Tendean". Di sebelah rumah ini terdapat ruangan kecil yang bernama Ruangan Diorama. Di ruangan ini, pengunjung bisa melihat perjalanan karir militer dari Jendral A.H. Nasution mulai dari peristiwa Bandung Lautan Api, Hijrah Siliwangi, Agresi Milter Belanda ke 2 dan Sidang MPRS.
Museum ini buka dari jam 08.00 - 16.00 dan sama seperti museum lainnya di Jakarta setiap hari senin & hari libur nasional tutup. Masuk Museum ini tidak mengenakan biaya alias gratis

Comments

Popular posts from this blog

Kunjungan Asik Ke Bromo

Hari Paling Berkesan Saat Studi Lapangan

Perjalanan Seru ke Bromo